Jumat, 15 April 2011

Produksi Kopi Gayo Merosot Tajam

* Harga Jual Capai Level Tertinggi
Sun, Mar 6th 2011, 09:02

TAKENGON - Produksi kopi gayo (arabika) di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah beberapa tahun terakhir ini dilaporkan merosot tajam. Beruntung di tengah kondisi tersebut, petani masih sedikit tertolong oleh naiknya harga jual yang saat ini sedang berada di level tertingginya.

Petani kopi di Takengon, Andi, mengungkapkan, penyusutan produksi kopi yang terjadi cukup besar, mencapai 50 persen dari rata-rata produksi. Biasanya, rata-rata produksi biji kopi yang dicapai per hektarenya mencapai 300 sampai 500 kilogram. “Namun sekarang ini, jangankan mencapai 300 kilogram, setengah dari hasil itu saja sulit didapat,” katanya kepada Serambi, Sabtu (5/3).

Dia tidak mengetahui persis penyebab penurunan produksi tersebut. Namun ada beberapa versi yang diperoleh Serambi, di antaranya karena faktor umur tanaman yang sudah tua, serangan hama, serta faktor dampak dari pemanasan global.

“Penurunan produksi kopi ini terjadi tidak hanya di Aceh Tengah dan Bener Meriah, tetapi juga di negara-negara penghasil kopi lainnya. Penyebabnya pemanasan global (global warming),” kata pedagang pengumpul biji kopi di Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Abd Kahar.

Informasi lain, susutnya produksi kopi terjadi karena serangan hama jamur akar dua tahun terakhir. Salah seorang petani, Irwanto AB, mengaku bahwa sebagian tanaman kopi miliknya mati akibat terserang hama tersebut.

Menurut petani lainnya di kawasan Paya Tumpi, Marzuki, hama jamur akar itu menyerang tanaman kopi non organik dengan penggunaan pupuk pestisida. Sebagian tanaman kopi miliknya yang tidak menggunakan pestisida masih aman dari serangan hama tersebut.

Perlu penelitian
Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Bener Meriah, Ir Darusallam, belum berani memastikan adanya keterkaitan antara pemanasan global tersebut dengan susutnya produksi kopi.

Penurunan yang terjadi selama ini menurut dia karena beberapa sebab, salah satunya perubahan pola tanam dari non organik menjadi organik, serta karena umur sebagian tanaman yang sudah tua dan perlu peremajaan. Darussalam menyebutkan, sebagian besar tanaman kopi berusia di atas 25 tahun sehingga produksinya menjadi kurang maksimal.

“Memang faktor cuaca juga mempengaruhi produksi kopi. Tetapi saya belum berani menjawab ini terkait dengan global warming (pemanasan global) karena untuk membuktikan hal itu perlu penelitian secara khusus,” katanya.

Level tertinggi
Beruntung di tengah penurunan produksi tersebut, harga kopi justeru sedang naik-naiknya, dan telah berada di level tertinggi sepanjang beberapa tahun terakhir. Untuk kopi gelondongan misalnya, harga jual mencapai Rp 100.000 hingga Rp 110.000 per kaleng.

Sedangkan untuk kopi gabah harganya berkisar antara Rp 26.000 hingga Rp 28.000/kilogram, dan kopi hijau (green coffe) dengan kadar air 14 persen dibenderol Rp 56.000 hingga Rp 58.000 per kilogram.

Kenaikan harga biji kopi tersebut terjadi sejak Oktober 2010 kemarin dan berlangsung secara bertahap. Petani, Andi mengatakan, harga saat ini merupakan yang tertinggi yang pernah terjadi.

“Selama empat bulan terakhir harga jual kopi terus meningkat, namun justru hasil produksi yang semakin menurun,” tambah pedagang pengumpul, Abd Kahar.(c35/ant)

Sumber : Serambinews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar